My Inspiration

Mereka adalah orang-orang yang menjadi inspirasi dalam hidupku.

My Queen

Bersamamu hidup ini terasa lebih berarti.

Bersama Mr. Athok

Teman berpetualang dan belajar.

SHM Young Guns

Kenanganmu takkan lekang oleh waktu - The Big Family Of SHM.

Bersama temen-temen seperjuangan

Pada alam kita belajar untuk mencintai.

Tampilkan postingan dengan label Tentang Bumi Ronggolawe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Bumi Ronggolawe. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Pecinta Alam Tuban Ruwat Bumi di Hari Bumi


Tuban – Hari bumi yang diperingati pada 22 April adalah momen untuk berbuat sesuatu kepada bumi seperti yang dilakukan oleh CAGAR dengan pecinta alam se Kabupaten Tuban, dilaksanakan didua tempat di Kecamatan Merakurak dan di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban.

Kegiatan yang bertajuk Meruwat Bumi ini adalah wujud dari rasa memiliki dan kepedulian anak negeri atas semakin tidak terjaganya lingkungan hidup.
Bertempat di Desa Tuwiriwetan Kecamatan Merakurak, Tuban, yang di komando Mahipal Unirow PGRI Tuban bersama Mapala dan Sispala, mengawali kegiatan Ruwat Bumi dengan menggelar upacara bendera di mulut Goa Srunggo yang berupa aliran sungai dari perut bumi. Upacara berjalan dengan khitmat, ini adalah bentuk keprihatinan anak negeri atas menipisnya kepedulian terhadap lingkungan hidup oleh derasnya eksploitasi sumber daya alam.
Usai upacara rangkaian kegiatan Ruwat Bumi dilanjutkan dengan kenduri bumi yang dihadiri oleh masyarakat desa setempat dari anak-anak sampai orang tua,bahkan para ibu yang kebetulan akan mandi dan cuci di mata air Goa Srunggo, ”Ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas anugrah berupa bumi beserta isinya bagi kesejahteraan umat manusia sampai kiamat nanti,“ ujar Sapta komandan lapangan.
Kemudian acara Ruwat Bumi dilanjutkan dengan penanaman pohon Trembesi dan Ketapang untuk memperkaya dan memperkuat vegetasi goa yang aliran sungainya membentuk rawa seluas 1.475 hektar. Rawa yang dinamai Silowo ini bukan saja memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Merakurak tapi juga merupakan satu-satunya rawa kars (kapur) terbesar yang ada di Kabupaten Tuban, “Kita anak muda yang berbuat sebelum semuanya habis terlumat,“ kata Siti Assyah ketua umum Mahipal.
Sebagai penutup acara Ruwat Bumi para pecinta alam ini melakukan bersih rawa Silowo dengan mengambil dan mengumpulkan sampah anorganik (plastik) di sepanjang tepian rawa yang memiliki tumbuhan endemik berupa pohon sagu dan pohon gayam. Selesai kegiatan terkumpul 5 karung sampah kemudian dibawa pulang ke kampus. “Ada benturan keras kepentingan antara kearifan lokal (kebisaan MCK di sungai) dan sanitasi kesehatan lingkungan,mendatang pemerintah yang membidangi ini mesti melakukan sesuatu,“ tanggapan Eko Spd, tokoh senior Pecinta Alam Tuban.
Selain di Merakurak, di Rengel tepatnya Desa Ngadirejo kelompok mapala dan sispala yang dikoordinatori Semesta SMK Abdi Negara Tuban juga diikuti Muspika Rengel, melakukan kegiatan penanaman pohon Trembesi dan pohon Ketapang di sempadan Bengawan Solo untuk mencegah terkikisnya tanah dari luapan banjir musiman yang datang di setiap musim penghujan, “Sebagai pelajar kami sangat respek atas keberadaan aliran bengawan solo, namun akhir-akhir ini bantaranya banyak mengalami longsor,“ jelas E. Purwanto Ketua Semesta SMK Abdi Negara.
Peringatan hari bumi kali ini yang dilakukan di dua tempat terpisah, juga dihadiri tokoh aktifis lingkungan, “Sudah saatnya kami satukan langkah dari semua elemen untuk menyelamatkan bumi Ronggolawe dari desakan eksploitasi yang massif, guna memberi ruang bagi kehidupan manusia,“ ujar Ketua Yayasan Alam Aku Cinta Indonesia (ACI) Imam Bukhori SP.
Tanggapan lebih tajam disampaikan direktur CAGAR Edy Toyibi, “Jika rencana lahan tambang semen BUMN unit IV di Tuban yang persis segaris berada di areal tangkapan hujan/catchment area mata air Goa Srunggo dan Silowo Merakurak, maka jangan bermimpi melihat limpahan air dan keanekaragaman yang melimpah di rawa Silowo, dikemudian hari,“ ujarnya. “Aliran Bengawan Solo yang masih bergerak dinamis akibat limpahan air permukaan /sureface run off pegunungan kapur gendeng utara ini perlu penguatan vegetasi dan terbebas dari eksploitasi pasir, kalau tidak mau dicaplok wilayahnya oleh gerusan yang menggeser letak sempadan sungai,“ papar aktifis berambut gondrong tersebut.
Ada hal menarik Saat penutupan kegiatan di atas rawa Silowo para peserta kegiatan peringatan hari bumi melingkar khusuk panjatkan do’a bersama atas meninggalnya Wakil Menteri (WAMEN) ESDM Prof Wijajono widagdo di Gunung Tambora, Dompu Nusa Tenggara Barat, Kemarin.(at)

Sumber 
Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Kamis, 05 Januari 2012

Dua ‘Senopati’ Nyaris Adu Jotos Saat Sertijab


Dua ‘Senopati’ Nyaris Adu Jotos Saat Sertijab
Dua 'Senopati' nyaris baku hantam saat sertijab di Dispora Tuban
Tuban - Acara serah terima jabatan (Sertijab) sejumlah pejabat di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Tuban di Aula setempat berakhir ricuh, Rabu (4/1/2012).
Sebab,  M. Sholeh yang dinonjobkan dari jabatannya sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan dan Olahraga Kecamatan Tambakboyo melakukan ‘protes’ saat acara sertijab itu baru dimulai. Bahkan, pejabat yang dikenal sebagai  ‘SENOPATI’ Bupati sebelumnya itu tampak emosi saat menanyakan surat keputusan dan alasan pemberhentiannya sebagai kepala UPTD.

Rabu, 04 Januari 2012

Sertijab di Tuban Ricuh, Nyaris Adu Pukul

Tuban  - Sungguh perbuatan yang memalukan bagi dunia pendidikan, prosesi serah terima jabatan untuk eselon III dan IV di lingkungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Tuban diwarnai dengan kericuhan, Rabu (04/01/2012).

Kericuhan berawal saat Kepala Bidang Ketenagakerjaan Didik Purwanto berusaha mengusir Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Kecamatan Tambakboyo Muhammad Soleh, yang terus menerus melontarkan protes dan interupsi terhadap Kepala Disdikpora Tuban Sutrisno.Kericuhan yang terjadi dalam pelaksanaan Sertijab yang berlangsung di Gedung Disdikpora tersebut dipicu lantaran peserta yang hadir dalam Sertijab tersebut menilai proses sertijab tersebut tidak sesuai prosedur, dan melakukan protes dalam acara tersebut.

Senin, 02 Januari 2012

Jenderal Kehormatan (Purn) GPH. Djatikusumo Pemimpin Divisi Ronggolawe

Prajurit dari Kraton JANGKA JAYABAYA. BIDANG kemiliteran bukan hal baru buat saya. Sejak kecil penghuni keraton sudah dididik kemiliteran, antara lain lewat pertunjukan wayang kulit. Anak-anak diizinkan nonton sampai pukul 11 malam. Kami juga berlatih baris-berbaris. Di samping itu tentunya belajar pencak silat dan naik kuda. Saya dilahirkan dalam lingkungan yang dibayangi oleh sindrom Perang Diponegoro.

Pada 1897--empat tahun setelah ayah naik tahta sebagai Sri Susuhunan Paku Buwono X--beliau mengumpulkan orang-orang tua, menganjurkan mereka agar mempelajari mengapa kita selalu kalah dengan penyerbu-penyerbu asing. Bukankah Keraton Surakarta selain pernah dimasuki Belanda, juga pemah diduduki Lnggris (1811--1816). Bahkan Prancis pun pemah mencengkeram kita secara tidak langsung, yakni ketika Negeri Belanda dikuasai Prancis.
Dalam pertemuan itu Bapak minta kepada para orang tua keraton untuk mencari cara mengusir penjajah. Baru dua tahun kemudian, tahun 1899, mereka menjawab. Di antara sejumlah saran, yang terpenting adalah kita harus memiliki hanya satu pimpinan. Maksudnya, agar kita bisa mendirikan negara yang bersatu semacam Majapahit. Tidak terpecah-belah dalam beberapa pimpinan yang saling bersaing.

MAHIPAL Unirow Temukan Kubur Batu Era Megaliticum


Satu lagi jejak prasejarah berhasil ditemukan di Bumi Ronggolawe. Ekspedisi yang dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Universitas (PGRI) Ronggolawe (Unirow) Tuban beberapa waktu lalu berhasil menyingkap sisa peradaban zaman megalitikum di Desa Sokogunung, Kecamatan Kenduruan.
Sisa peradaban pra-sejarah tersebut berupa kubur batu berukuran 244 cm X 85 cm. ” Kubur batu ini diperkirakan berumur sekitar 1200 tahun sebelum masehi. Menurut arkeolog, zaman itu ditengarai sebagai zaman peradaban batu besar atau megalitikum,” jelas Siti Aisyah, Ketua Team Ekspedisi, Selasa (13/9).

DIVISI RONGGOLAWE



Setelah Yogyakarta diduduki oleh Militer Belanda pada 19 Desember 1948, pimpinan TNI memindahkan MBKD (Markas Besar Komando Djawa) keluar kota, dan system Wehrkreis dilaksanakan. Wehrkreis adalah bahasa Jerman dan merupakan siasat perang Gerilya dimana tidak ada front yang tetap. Kabupaten Wonosobo pada garis besarnya menjadi Sub-Wehrkreis atau SWKS W yang ditempati oleh pasukan T-Ronggolawe. T berarti “Tjadangan” atau Reserve. Ronggolawe nama divisi IV TNI di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Djenderal Major Djatikusumo.