My Inspiration

Mereka adalah orang-orang yang menjadi inspirasi dalam hidupku.

My Queen

Bersamamu hidup ini terasa lebih berarti.

Bersama Mr. Athok

Teman berpetualang dan belajar.

SHM Young Guns

Kenanganmu takkan lekang oleh waktu - The Big Family Of SHM.

Bersama temen-temen seperjuangan

Pada alam kita belajar untuk mencintai.

Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

Misteri Lenyapnya Dua Kerajaan Nusantara Akibat Letusan Tambora

Tuban~Bukan hanya tahun tanpa musim panas, letusan Tambora juga mengakibatkan wabah penyakit dan bencana kelaparan yang melanda negara-negara dibelahan utara. Jumlah korban yang terkana letusan langsung ditambah korban dampak dari letusan Tambora 1815 diperkirakan menelan korban lebih dari 71.000 jiwa.
Posted Image
Gunung Tambora




Kerajaan yang Hilang
Kerajaan Tambora dan Kerajaan Sugeni berdiri sekitar 1678 - 1789 . Tak ada sejarah kapan pastinya dua kerajaan ini berdiri. Dua kerajaan ini terletak di bagian utara dan selatan kaki gunung tambora . Kedua kerajaan ini selalu berperang untuk memperbutkan wilayah barat tambora yang ketika itu masih wilayah netral . Dan Ketika mereka berperang pada saat itulah Gunung Tambora meletus , hampir di katakan kedua kerajaan ini hampir tak ada yang tersisa karena terkena awan panas , dan menimbun kedua kerajaan ini sehingga kedalaman 8 - 10 meter dibawah abu vulkanik dan tak ada 1 pun penduduk yg selamat dari bencana alam ini.
Posted Image




Kedua kerajaan ini yaitu Kerajaan Tambora dan Kerajaan Sugeni mencuat ketika seorang penduduk desa bernama Munawarman menemukan sebuah benda kerajaan kuno yg di perkirakan berumur 200 tahunan, ketika ia menggali sawahnya . Sontak penemuan ini mengejutkan para ahli sejarah Indonesia beserta dunia. Banyak para ahli sejarah dari berbagai belahan dunia datang ke Indonesia untuk mencari keberdaan dua kerajaan yang bahkan tak tercatat dalam sejarah.

Namun hal ini di larang oleh pemerintah saat itu (yaitu Soeharto ) dengan alasan "Biarlah sebuah misteri tetap menjadi misteri" dan hal inipun kemudian di tutupin. Tujuh tahun kemudian sebuah team “METRO EXPLORER” yang dibantu pemerintah setempat membuka kembali situs bersejarah ini. Setelah 4 minggu penggalian mereka menemukan puluhan bahkan ratusan tengkorak manusia yang tertimbun dengan kedalaman sekitar 11 meter di bawah tanah , kemudian penggalian diperluas hingga ke arah selatan, mereka menemukan cawan (gelas kerjaan) disisa-sisa banggunan tersebut.

Tentu hal ini juga mengejutkan mereka, karena mereka menemukan lagi situs kuno di daerah tersebut, penggalian selanjutnya di teruskan ke arah barat. Di penggalian ini mereka dikejutkan dengan menemukan beberapa ratus tengkorak dengan pakaian tempur lengkap dan senjata ditangan mereka. Di perkirakan Tambora meletus ketika mereka saling berperang dan mereka mati seketika saat bencana mematikan itu.

Catatan Sejarah Tentang Letusan Tambora Yang Mengguncang Dunia

Setelah beberapa abad tertidur, akhirnya Gunung Tambora mulai menunjukkan keperkasaannya kepada dunia pada tahun 1812. Saat itu Kaldera Gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, mulai terjadi erupsi dan disusul dengan bunyi suara gemuruh yang terdengar hingga Ujung Pandang di Selebes (380 km dari Gunung Tambora), Batavia di Jawa (1.260 km dari Gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1.400 km dari Gunung Tambora). Keesokan harinya, tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Dari serangkaian letusan yang terjadi dalam waktu beberapa hari, meledakkan dan memotong gunung dengan lebar hampir satu mil. Kolom vulkanik yang keluar dari perut bumi terbang ke angkasa sejauh 40 km dan kembali ke tanah membuat aliran abu besar piroklastik, batu apung dan puing-puing. Aliran piroklastik sudah berdampak menewaskan orang-orang di jalan-jalan, dan melakukan perjalanan sejauh 1.300 km. Ketika aliran ini mencapai laut, menciptakan sebuah perpindahan yang sangat besar sehingga menyebabkan tsunami setinggi 5 meter yang memancar keluar dari pulau. Dan Tsunami ini juga menyebabkan dampak banjir, kehancuran dan kematian pada pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Saat terjadi letusan Tambora, Kerajaan Inggris sedang melakukan intervensi di wilayah koloni Belanda. Sir Thomas Raffles sempat bertinggal di Buitenzorg (Bogor) kemudian menjadi Gubernur Jendral Bengkulu. Saat letusan itu terjadi , Raffles dalam memoirnya , bahwa dentuman terjadi setiap 15 menit sekali dan berlangsung terus di hari berikutnya . Sehingga satu detasemen prajurit di persiapkan dari Jogjakarta untuk mengantisipasi kemungkinan serangan.

Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.



—Sir Thomas Raffles’ memoir.


Raffles juga mengirim perwira untuk meneliti keadaan di Flores , yang kemudian hasil laporan menyebutkan bahwa Flores berada dalam kondisi yang mengenaskan , mayat-mayat bergelimpangan , rumah-rumah roboh dan terbenam , banyak kuda yang mati , air terkontaminasi racun vulkanik.

Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.

Sejak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar untuk masalah yang sama.

—Letnan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa
Letusan 1815



Suara gemuruh yang dihasilkan oleh erupsi Gunung Tambora, terdengar ke Pulau Andalas dan Pulau Borneo (lebih dari 2.600 km dari Gunung Tambora) pada tanggal 10-11 April 1815. Suara yang terdengar ini, awalnya dianggap sebagai suara tembakan meriam.

Tanggal 10 April 1815, Gunung Tambora memuntahkan lebih dari satu setengah juta ton (400 km³) debu vulkanik dan sulfur ke lapisan atmosfer. Erupsi Tambora tercatat sebagai erupsi terbesar didunia setelah Gunung Toba (saat ini Danau Toba), yang terjadi pada masa purbakala. Oleh karena itu Ledakan Tambora adalah ledakan terbesar didunia sejak peradaban manusia modern. Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan Gunung Krakatau, 68 tahun setelahnya.

Akibatnya, semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang, bercampur dengan abu batu apung, kemudian hanyut dilaut dan membentuk rakit dengan jarak lintas melebihi 5 km. Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815. Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asab masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.

Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km. Partikel abu jatuh 1-2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat sebuah fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815. Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas.

Sebelum letusan April 1815, Gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m, yang mengokohkannya menjadi salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung menyusut hingga setinggi 2.851 m. Sampai saat ini kaldera Gunung Tambora adalah salah satu kaldera terluas didunia.Sumber Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Almas, Mahluk Mirip Bigfoot Legenda dari Mongolia


Posted Image
Almas


Almas adalah "Orang Liar" dari Mongolia" mahluk setengah manusia dan setengah hewan yang hidup di Pegunungan Altai di Mongolia selatan, Kaukasus dan Pegunungan Pamir di Asia Tengah. Mahluk ini digambarkan sebagai hewan seperti manusia setinggi antara lima dan enam kaki (1,5m-1,7m) Tubuh ditutupi rambut cokelat kemerahan, dan tampilan wajahnya seperti manusia pada umumnya. Para ilmuwan mencatat bahwa deskripsi yang luar biasa mirip dengan deskripsi Neanderthal.

Tentang Neanderthal
Posted Image


Neanderthal atau Neandertal, adalah anggota genus Homo yang telah punah dan berasal dari zaman Pleistosen. Spesimennya ditemukan di Eropa dan Asia Barat dan Tengah/. Neanderthals dapat diklasifikan sebagai subspesies manusia (Homo sapiens neanderthalensis) atau spesies yang berbeda (Homo neanderthalensis). Jejak proto-Neanderthal pertama muncul di Eropa 600.000–350.000 tahun yang lalu.

Pada situs-situs arkeologi Uluzzian (salah satu kelompok etnis dalam keluarga besar Neanderthal) di Italia Selatan telah ditemukan beragam peralatan hidup sehari-hari yang digunakan oleh Neanderthal. Peralatan tersebut meliputi alat memancing, berburu, proyektil, serta perlatan lain dari tulang dan batu. Hal ini menunjukkan bahwa Neanderthal mampu berinovasi dan membuat teknologi baru. Neanderthal berpisah dari garis evolusi manusia sekitar 500.000 tahun yang lalu dan lenyap dari muka bumi sekitar 30.000 tahun yang lalu. Beberapa spekulasi yang diduga berkaitan dengan kepunahannya adalah Neanderthal mati dibunuh oleh manusia modern, atau Neanderthal punah karena Homo sapiens lebih banyak dan aktif bereproduksi. Spekulasi lainnya adalah tiga kali letusan gunung berapi sekitar 40.000 yahun yang lalu di daerah Italia dan Pegunungan Kaukasus telah menyebabkan kepunahan Nanderthal

Penampakan Mahluk Almas
Posted Image

Spekulasi keberadaan Almases mungkin awalnya mahluk legendaris ini hanya dongeng saja, tetapi masyarakat sering sering melihat penampakan mahluk tersebut, jejak ditemukan, dan interpretasi tradisi asli lama (antropologis) telah dikumpulkan menandakan keberadaan mahluk ini. Almases muncul dalam legenda masyarakat setempat, yang menceritakan kisah penampakan dan interaksi manusia-Almas sejak beberapa ratus tahun. Ternyata makhluk nomaden yang sering berpindah dari desa ke desa, sering menampakan diri kepada para petani dan penduduk desa setempat.
Beberapa gambaran tentang Almases sering ditafsirkan di dalam buku obat-obatan Mongolia.

Antropolog Inggris, Myra Shackley mencatat dari buku ini berisi ribuan ilustrasi dari berbagai kelas hewan (reptil, mamalia dan amfibi), namun tidak satu binatang mitologis tunggal seperti yang diketahui dari buku serupa dari Eropa di abad pertengahan bahwa Semua makhluk tersebut masih hidup hingga kini (termasuk Almases).

Catatan Sejarah Tentang Pertemuan Dengan Almas
Penampakan Almases pernah tercatat di abad ke-15. Pada 1430, Hans Schiltberger mencatat pengamatan pribadi tentang makhluk-makhluk dalam jurnal perjalanannya ke Mongolia sebagai tawanan Mongol Khan . Dia mencatat bahwa Almasty dimasukkan sebagai entri dalam buku medis Tibet , bersama dengan ribuan hewan dan tumbuhan lain yang hidup hingga kini. Schlitberger mengamati makhluk Almas dan menggambarkan mereka (Almases) sebagai "Orang Liar berbulu" / Hairy Wildmen.

Posted Image
Nikolai Przhevalsky

Pada 1871, Nikolai Przhevalsky, seorang ahli geografi Rusia, mengamati binatang. Przhevalsky berada di ekspedisi yang didanai Rusia dengan 10 orang lainnya. Perjalanan mereka ke Mongolia dimaksudkan sebagian sebagai misi mata-mata (Cina sedang mengalami pemberontakan besar kaum Muslim pada saat itu) dan sebagian dari proyek pemetaan perbatasan Rusia-Cina. Ia memperkirakan bahwa ia menemukan ada hewan beratnya sekitar 200-an kilogram dan dapat berlari sekitar 60 km per jam, apakah ini Almesty..???.

Dilaporkan juga pertemuan dengan Almasty jenis kelamin laki-laki pada tahun 1941, tak lama setelah invasi Jerman ke Uni Soviet. Menurut cerita, makhluk agak mirip dengan Zana ditemukan di kawasan Pegunungan Kaukasus oleh detasemen Tentara Merah di bawah kendali seorang Letnan Kolonel Vargen Karapetyan. Menurut Karapetyan, binatang itu sangat mirip manusia, tapi serba tertutup, rambut gelap. Almasty ini pernah di interogasi oleh pihak tentara karena tidak memiliki kemampuan berbicara maka, binatang itu akhirnya dibunuh.
Posted Image

Ivan Ivlov's mencatat observasi kelompok keluarga Almas pada tahun 1963. Ivlov, seorang dokter anak, memutuskan untuk mewawancarai beberapa pasien anak di Mongolia , dan menemukan bahwa banyak dari mereka juga melihat Almases. Tampaknya bahwa baik anak-anak Mongol maupun Almas muda, sama-sama takut kalau mereka saling bertemu. sopir Ivlov juga mengklaim telah melihat para Almases.

Peneliti Rusia Alexei Sitnikov pernah bepergian ke Kake Tonee pada tahun 1993, ketika itu ia dan tim menemukan mahluk Almas. Sitnikov berada di sebuah ekspedisi untuk mencari seekor ular raksasa. Kelompok peneliti baru saja mulai perjalanan mereka justru berjumpa dengan mahluk Almas. Ketika mereka menyeberangi sungai dengan rakit, ketika itu mereka melihat seorang laki-laki ditutupi dengan bulu kemerahan mengintai di seberang sungai. Pria itu membuat suara sedikit mendengus dan kemudian dia bergegas lari ke hutan . Sitnikov mulai mengejar. Tapi mereka tidak menemukan makhluk tersebut tetapi menemukan jejak kaki di pasir pantai. Kondisi cuaca sangat cerah dan jelas. Makhluk itu sangat jelas terlihat Sitnikov dan beberapa dari tim peneliti lainnya.

Ciri - Ciri Almas
Posted Image

Foto kontroversial Almas Yang Diambil tahun 1955

Ciri-Ciri Almas: Kepalanya agak berbentuk segitiga. Makhluk itu memiliki mata kecil, hidung lebar, dan ada celah di mulutnya. Leher tidak terlihat, dan itu tampak seolah-olah leher bersatu dengan bahu. Mahluk ini memiliki dada yang kuat.

Spekulasi muncul bahwa Almases adalah populasi yang berkaitan dengan manusia Neanderthal sementara yang lain telah berspekulasi bahwa Almases adalah bagian spesimen Homo erectus. Dan Spekulasi lainnya bahwa Almases berkaitan dengan Yeti dari pegunungan Himalaya, yang lebih dekat ke kera daripada manusia
.
Ilustrasi Almas Mongolia
Posted Image
Posted Image


Refrensi:
http://alamas.ru/eng...t/Almasty_e.htm
http://home.clara.ne...rs/living8.html

Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Rabu, 01 Februari 2012

Semar Bukan Tokoh Impor

Dia seorang yang Kontroversial. Bukan seorang penasehat tetapi sering dimintai pendapat. Dianggap lemah tetapi di saat kritis muncul sebagai penyelamat. Pintar dialing-aling bodoh, gagah dialing-aling lemah. Padahal dia hanya rakyat biasa hidup di desa bersama masyarakat golongan bawah. Orang menganggapnya hanya sebagai hamba atau pelayan pada keluarga terhormat.

Keberadaannya hanya sebagai figur tambahan yang tidak ada kaitannya dengan jalan cerita. Meskipun demikian kehadirannya mempunyai daya pesona tersendiri sebagai artis penghibur di kala sendu, pengundang tawa dikala duka. Dibalik itu semua sesungguhnya dia adalah penjelmaan dewa bertugas mengemong para satria Pandawa pemeran inti kisah Mahabarata. Anehnya, walai dia bersatu dengan keluarga Pandawa namanya tidak tercantum dalam Mahabarata sehingga menimbulkan tanda tanya, siapa dan dari mana Ki Semar itu? Untuk mengungkapnya kita tinjau dari dua sudut pengertian.
Ditinjau dari sejarah perjalanan hidupnya di alam pewayangan, Semar dan anak-anaknya hidup dan mengabdi sejak generasi Sakutrem, Sakri, Manumayasa, Palasara hingga Abiasa dan Arjuna tanpa mengalami pergantian generasi sebagai pengabdi.
Dalam pengabdian dari generasi ke generasi yang begitu panjang, dia bersama anak-anaknya telah menjadi saksi hidup tentang kebangkitan, kemegahan sekaligus keruntuhan generasi masa silam. Ia juga telah mengalami, merasakan dan menyaksikan semua peristiwa yang terjadi di masa itu. Pelbagai tempat telah disinggahi, berbagai peristiwa telah dialami, sehingga betapa luas dan lengkapnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta mengetahui seluk-beluk kehidupan di masa lalu.
Karena itulah rupanya Ki Semar dan anak-anaknya dipanggil dengan sebutan “Panakawan”. Pana artinya Tahu/mengetahui. Tetapi bukan sekadar tahu sepintas lalu, melainkan mengetahui sampai pada tingkat yang sedalam-dalamnya. Sedang Kawan adalah Teman, tetapi juga bukan sekedar teman biasa, melainkan teman yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas dan lengkap sampai pada tingkat yang dijadikan sebagai teman hidupnya, Ini melambangkan bahwa hidup tanpa pengetahuan bagai damar tanpa sinar.
Kesimpulan pertama Panakawan adalah teman yang baik yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dan lengkap serta mendalam. Sedang kesimpulan kedua bukan semata-mata ditujukan kepada individunya, tetapi kepada ilmu pengetahuannya dan pengetahuan itu dapat diartikan sebagai Pandangan hidup atau falsafah hidup.

Dengan demikian Panakawan seolah Pewaris dan pemelihara yang konsekuen terhadap nilai-nilai sejarah dan peradaban manusia untuk masa lampau, masa yang sedang dijalani dan masa yang akan datang. Sementara pihak ada yang mentafsirkan Semar adalah tokoh misterius antara Ada (berwujud konkret) dan tidak ada (Abstrak). Dalam pengertian abstrak Ki Semar dilukiskan dalam wujud yang tidak “berbangun”, tidak mirip laki-laki atau perempua, serba tidak jelas atau “samar-samar” sehingga menimbulkan teka-teki bersifat rahasia atau gaib (Dr. Seno Sastroamidjojo). Perutnya besar, berwajah putih, badannya hitam dan berkuncung di atas kepala. Kesemua itu bukan tanpa arti.
Wajah putih lambang kesucian bahwa manusia harus berusaha membersihkan diri (hati), menghindari dari perbuatan buruk. Badan hitam pertanda teguh iman tak tergoyahkan oleh ajakan syetan. Berkuncung lurus menunjuk ke atas harus mawas diri eling kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian Semar dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk dan apa pun yang terjadi ia terima dengan sabar dan ikhlas, pertanda ia telah mengenal “Jati Diri”, karena itu ia mampu mengendalikan diri.
Menurut Ki Resi Wahono dalam bukunya Takbir mahabarata, Ki Semar identik dengan nama Kyai Lurah Nayataka. Naya artinya Sinar atau Cahaya. Sedan Taka mempunyai arti Pati atau Mati. Jadi Nayataka mempunyai arti “Sinarnya Pati” atau Dhat Luhur yang sudah terluput dari pengaruh badan jasmani terbebas dari segala keinginan duniawi. Jika ditinjau dari nama Nayataka artinya seorang yang luhur derajatnya dan martabatnya.
Semar juga bergelar Hyang Maya. Kata “maya” artinya tidak berwujud tetap atau selalu berganti-ganti sifat, tidak tentu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan. Maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa Semar bukanlah manusia wajar melainkan nama yang memperlambangkan unsur yang selalu mengikuti dan melindungi seseorang atau perlambang sebagai KAWAN. Pengertian yang lebih dalam adalah lambang SUKSMA, ROH atau JIWA yang berada di dalam diri kita semua. Secara filosofis mengandung arti hubungan antara keluarga Pandawa dengan Panakawan. Karena itu, kehadirannya sebagai pengasuh merupakan sosial kontrol memberi koreksi, reaksi dan kritik terhadap para satria Pandawa memperlambangkan hidupnya demokrasi.
Akan tetapi kenyataan sering membuktikan dalam cerita wayang, bahwa koreksi atau reaksi dan kritik Panakawan sering diremehkan, bahkan tak jarang mendapat perlakuan yang menyakitkan dari satria yang diasuhnya. Hal ini melambangkan bahwa, meskipun Pandawa merupakan mythos kebenaran, tetapi mereka tidak bersih dari kesalahan. Kebenaran bukan monopoli mereka yang masih bisa berbuat salah. Sebagai akibatnya, apabila Pandawa berpisah dari Panakawan, Pandawa akan kehilangan kontrol kebenaranm sebaliknya Panakawan pun akan merasa prihatin. Hal ini melambangkan apabila manusia mengingkari kebenaran, ia akan jatuh ke dalam jurang kenistaan.

Demikianlah kehadiran Ki Semar dalam setiap lakon meski tidak ada kaitannya dengan jalan cerita, namun mempunyai daya tarik dan pesona sendiri. Akan terasa hambar pagelaran wayang jika tidak menghadiran kelompok Panakawan. Seringkali dalam lakon wayang jika Pandawa menghadapi kesulitan yang tidak dapat diatasi, maka di saat itu Ki Semar muncul sebagai penyelamat walau kadang-kadang tidak secara terang-terangan. Selain keterangan diatas tentang Semar, tidak mengesampingkan adanya penelitian dari segi lain.
Ditinjau dari segi kebudayaan secara luas, ketika orang-orang Hindu datang di Indonesia menyebarkan kebudayaannya, antara lain agama dan kesustraan, kebudayan kita sudah cukup tinggi, termasuk seni pedalangannya dikenal dengan sebutan “Juru Barat” (860 M). Tetapi pengaruh Hindu telah menimbulkan proses akulturasi antara kebudayaan pribumi dengan kebudayaan Hindu yang disesuaikan dengan alam pikiran dan pola kebudayaan pribumi, di atanranya adalah dua epos besar sastra Hindu; Ramayana dan Mahabarata. Yang kemudian menjadi sumber pokok cerita pedalangan.
Dari akulturasi kemudian muncul apa yang disebu Sinkretisme. Sinkretisme adalah bentuk reinterpretasi yang menunjukan berubahnya segala aspek dalam kebudayaan, yaitu suatu proses yang menyelarasakan anasir-anasir tua dalam kebudayaan terhadap unsur-unsur baru atau diubah dengan nilai-nilai baru.
Maka sangat mungkin Semar termasuk dalam kategori sinkretisme, karena tokoh Panakawan adalah unsur budaya pribumi yang dalam proses akulturasi kedudukannya tidak di bawah unsur budaya Hindu seperti Batara Guru (Syiwa), Indra, Brahma dan lain-lain. Bahkan dalam pewayangan Semar mempunyai kedudukan yang lebih tinggi serta memegang supremasi hegemoni.
Dengan demikian jelas kiranya Semar bukanlah tokoh produk budaya yang diimpor lewat Mahabarata atau Ramayana, tetapi asli hasil produk pemikiran para cendekia budaya Indonesia.
Sumber Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Filosofi Semar

Semar
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
  • Bebadra = Membangun sarana dari dasar
  • Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )
Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 )
Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka\

Gambar Wayang Semar kiranya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya :

Yang wayang itu hanyalah kulit
Yang kulit itu bukan Hakekat
Samasekali bukan , Ia
Hanyalah lambang dan sifat-sifat
Nama-nama dan aspeknya
Yang dalam lambang itu Maya
Dalam Maya ada Ia
Ia adalah yang Maha Wisesa, Wenang wening
Ia tak tampak tapi ada
Ada ini sebagai ada yang pertama
Dan tidak pernah tidak ada
Adanya adalah tunggal
Adanya adalah Mutlak
Ia satu-satunya kenyataan
Ada adalah tak tampak mata
Gaib, misterius, samar
Karena yang ada mutlak itu Tunggal
Yang Tunggal adalah kebenaran
Kebenaran mutlak karena tak ada kebenaran yang mendua
Tan Hana Dharma Mngrwa
Jadi Sang Hyang Tunggal adalah Kebenaran
Sang Hyang Tunggal adalah Samarnya SEMAR
Samar adalah aspek sifat dan Nama
Samar ada pada SEMAR

Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.