My Inspiration

Mereka adalah orang-orang yang menjadi inspirasi dalam hidupku.

My Queen

Bersamamu hidup ini terasa lebih berarti.

Bersama Mr. Athok

Teman berpetualang dan belajar.

SHM Young Guns

Kenanganmu takkan lekang oleh waktu - The Big Family Of SHM.

Bersama temen-temen seperjuangan

Pada alam kita belajar untuk mencintai.

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Membongkar Asumsi Manusia dalam Ekosistem

KOMPAS/RIZA FATHONI

• Judul: Etika Lingkungan Hidup
• Penulis: A. Sonny Keraf
• Penerbit: Penerbit Buku Kompas
• Cetakan: Oktober, 2010
• Tebal: xvi + 408 halaman
• ISBN: 978-979-709-526-0

Sugiarto Sargo

Krisis lingkungan hidup yang kita alami dewasa ini tidak hanya akibat dari meledaknya populasi dan perkembangan teknologi eksploitasi, tetapi secara mendasar bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia di dalam keseluruhan ekosistem.

Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia.

Bertolak dari kondisi tersebut, penulis buku ini menekankan perlunya suatu etika baru yang tidak hanya berlaku untuk interaksi antarmanusia, tetapi juga interaksi manusia dengan semua kehidupan di bumi. Suatu etika yang yang memandang alam sebagai bernilai pada dirinya sendiri dan pantas diperlakukan secara bermoral. Dengan etika baru ini, manusia dituntut untuk menjaga dan melindungi alam beserta segala isinya. Alam dan seluruh isinya tidak sekadar bernilai instrumental-ekonomis untuk dieksploitasi bagi kepentingan manusia.

Sebenarnya, khazanah filosofis telah mencoba memberikan alternatif terhadap etika antroposentrisme. Alternatif itu, misalnya munculnya sentientisme, yang mengakui bahwa segenap ciptaan itu mempunyai perasaan, yang dapat merasakan kesenangan dan penderitaan; biosentrisme, yang mengakui kedudukan moral semua makhluk hidup; dan ekosentrisme, yang memandang ekosistem-ekosistem dan biosfer mempunyai arti moral yang tidak tergantung kepada arti para anggotanya.

Untuk menandingi keangkuhan antroposentrisme, Sonny Keraf juga memberikan pemahaman dasar tentang paradigma baru di bidang etika lingkungan yang menentukan pola perilaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, yaitu biosentrisme, ekosentrisme, hak asasi alam, dan ekofeminisme.

Berdasarkan teori-teori etika tersebut, mantan Menteri Lingkungan Hidup ini membangun konsep baru bagi etika lingkungan hidup. Etika lingkungan hidup di sini harus dipahami sebagai disiplin ilmu dan sekaligus konsep tata kelola yang berbicara mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam.

9 prinsip etika lingkungan

Keberhasilan etika lingkungan melestarikan fungsi lingkungan hidup dan sumber daya yang terkandung di dalamnya tidak cukup bergantung pada perubahan perilaku individu, tetapi juga harus ada pengaturan sistem sosial dan politik yang berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, Keraf mencoba merumuskan sembilan prinsip etika lingkungan sebagai dasar pengembangan lebih lanjut dalam kaitannya kehidupan berbangsa dan bernegara serta hubungan antarbangsa (globalisasi).

Pertama, sikap hormat terhadap alam. Manusia sebagai anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis tersebut. Perwujudan nyatanya, manusia perlu memelihara, merawat, menjaga, melindungi, dan melestarikan alam beserta seluruh isinya. Kedua, prinsip tanggung jawab. Manusia dituntut untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan, dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan segala isinya. Berarti, kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

Ketiga, solidaritas kosmis. Prinsip ini membangkitkan rasa sepenanggungan dan mendorong manusia untuk tidak merusak dan mencemari alam, seperti halnya tidak akan merusak kehidupannya sendiri. Prinsip ini berfungsi mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kosmis.

Keempat, prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Prinsip ini menghapus sifat diskriminasi dan dominasi manusia terhadap makhluk lainnya. Kasih sayang dan kepedulian menyadarkan bahwa semua makhluk hidup di alam ini mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Kelima, prinsip ”No Harm”. Prinsip ini menjadi dasar perilaku manusia untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain, sebagaimana manusia tidak dibenarkan secara moral untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan sesama manusia.

Keenam, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Prinsip ini melandasi pola hidup baru, menggantikan pola hidup yang materialistis, konsumtif, dan eksploitatif. Ketujuh, prinsip keadilan. Prinsip ini memasuki wilayah politik ekologi, di mana pemerintah dituntut untuk membuka peluang dan akses yang sama bagi semua kelompok masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan publik lingkungan hidup dan dalam memanfaatkan sumber daya alam serta jasa lingkungan.

Kedelapan, prinsip demokrasi. Prinsip ini selaras dengan hakikat alam, yaitu keanekaragaman dan pluralitas. Paradigma pembangunan berkelanjutan hanya mungkin diterima kalau pembangunan dipahami sebagai berdimensi plural. Kesembilan, prinsip integritas moral. Prinsip ini sangat berkaitan dengan integritas moral pejabat publik. Selama pejabat publik tidak mau bertanggung jawab atas kebijakan dan tindakannya yang merugikan lingkungan hidup, lingkungan hidup akan tetap dirugikan.

Gagasan tentang etika lingkungan yang cukup radikal ini sebenarnya sudah disajikan penulis pada buku dengan judul yang sama edisi pertama yang terbit pada 2002. Sejak saat itu buku ini menjadi salah satu referensi penting wacana dan perbincangan ilmiah pendekatan etis terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Sampai saat ini gagasan dalam buku ini masih sangat relevan karena dengan instrumen teknik lingkungan, ekonomi lingkungan, dan politik lingkungan belum juga mampu menyelesaikan krisis lingkungan. Apalagi, dalam buku revisi ini selain beberapa revisi teknis juga ditambahkan satu bab baru mengenai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dengan demikian, diharapkan etika lingkungan tidak lagi sekadar berhenti menjadi perbincangan teoretis dan normatif, tetapi dapat menjiwai dan terimplementasi secara konkret karena didukung oleh sanksi hukum sebagaimana diatur di dalam UU 32/2009 tersebut.

Oleh : Sugiarto Sargo
, Pengajar Pascasarjana Universitas Nusa Bangsa, Bogor

Sumber: Kompas, Minggu, 20 Maret 2011

Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Senin, 30 Januari 2012

Menyingkap Rahasia Cincin Nabi Sulaiman

Tujuh Petualang Mistik di Alam Jin
Ditulis oleh Adi Baskoro
Judul Buku : Sang Raja Jin; Menyingkap Rahasia Cincin Nabi Sulaiman
Penulis : Irving Karchmar
Penerbit : Kayla Pustaka
Cetakan : Februari 2008
Tebal : 295 Halaman

Berbagi kisah dan kesan mendalam setelah memasuki mistisisme Islam selalu menarik untuk disimak. Tengoklah kisah petualangan Reshad Feild dalam The Last Barrier (Tabir Terakhir). Feild, seniman dan guru spiritual ini menceritakan "perjalanan rohani" berada di negeri para darwis dan bertemu dengan Syekh Hamid, seorang guru misterius yang mengajarkan "napas kehidupan". Beragam peristiwa dan pertemuan-pertemuan yang telah "digariskan" dijejaki Feild dalam menggapai ruang kesejatian.

Ada pula kisah yang tak kalah menarik dari seorang keturunan Yahudi --anak korban Holocaust-- bernama Irving Karchmar. Karchmar adalah seorang penulis dan darwis dari Tarekat Sufi Nimatullah. Berbeda dengan Feild, Karhcmar tidak saja mengisahkan pengalaman dirinya. Ia menghadirkan keenam rekannya secara utuh dalam bukunya Master of The Jinn: A Sufi Novel. Novel ini telah diterjemahkan dan diedit dengan baik dalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Raja Jin.

Sang Raja Jin berkisah tentang tujuh petualang mistik yang dilatari sejarah tua peninggalan Nabi Sulaiman. Ketujuh petualang mistik ini menjadi "retakan" penting yang terus dirawat dalam benak Ishaq. Mereka adalah Ali, Rami, Rebeca, Kapten Simach, Profesor Freeman, Si Faqir, dan Ishaq. Dalam novel ini Ishaq adalah seorang juru tulis yang terus mendokumentasikan segala peristiwa yang terjadi. Ishaq tak lain adalah Karchmar itu sendiri.

Latar kisah kenabian Sulaiman menjadi magnet yang misterius dan mengundang rasa penasaran. Kisah Raja Sulaiman memang menyisakan misteri berkepanjangan. Sampai saat ini harta karun peninggalan Nabi Sulaiman masih dipertanyakan keberadaannya. Raja penguasa angin, dunia binatang, jin, ilmu, dunia jin, ataupun kisah Ratu Sheba yang melingkupi adalah kisah yang melegenda.

Konflik cerita bermula saat Kapten Simach menemukan silinder yang terbuat dari emas berisi gulungan papirus bertuliskan huruf alfabet Yahudi kuno. Temuan yang membuatnya gelisah ini memaksa Profesor Freeman turut terlibat. Freeman mencoba menyibak misteri ini lewat keahlian arkeologi purbanya. Namun, rasionalitas ilmuwan ini tak sanggup untuk menerjemahkan teka-teki ini, hingga menyeret ketujuh orang ini ke "jalan badai". Demikian sebutan Irving untuk menunjuk sebagai jalan nyata yang harus ditempuh dan penuh ujian.

Sesungguhnya, petualangan berat yang menyeret ketujuh insan ini ke kota purba yang sejaman dengan Sulaiman sarat kejutan, ketegangan, dan hikmah yang dalam. Si Faqir, sang pemandu misterius, ternyata adalah Ornias, jin bertaring pencuri permata semasa Sulaiman. Jin yang nekat menyamar sebagai seorang manusia. Inilah kejutan Karchmar pada pembaca, sekaligus menyisakan pertanyaan: mungkinkah sosok jin bisa menjelma menjadi manusia dan memandunya menuju "jalan cinta".

Kehadiran Syekh Haadi sebagai wali Qutb beserta ketujuh muridnya memberikan cahaya terang di dunia jin --Kota Jinnistan dan reruntuhan Tadmor. Dunia gelap penuh keputusasaan tempat Baalzeboul, Raja Jin berpangku tangan, muncul setitik harapan, yakni ajakan bertobat lewat "jalan cinta". Jalan ini bukan hanya milik manusia saja, namun semua mahluk-Nya, termasuk jin (hlm. 261).

Barangkali bagi pembaca awam yang kurang memahami dunia tasawuf akan sedikit terbantu mengenali tradisi ini lewat deskripsi penulis; baik pada lembaran awal ataupun dalam glosari. Novel yang dimulai dari halaman sepuluh ini disisipi taburan puisi ataupun kutipan-kutipan bijak dari para sufi, filsuf, ataupun ayat-ayat suci. Dunia para darwis atau sufi bisa Anda tangkap dari latar penggambaran Karchmar. Lingkaran persaudaraan mistik kentara nampak pada lima lembar awal novel ini. Tanpa sebuah basa-basi panjang, Karchmar segera mengajak pembaca mengenali dunia para darwis. Novel ini memiliki prolog pendek dan mengundang rasa penasaran yang mendalam: misteri.

Novel ini tak dikhususkan bagi pecinta sufisme. Pesan-pesan universal tentang "jalan cinta" adalah benang merah yang ingin sampaikan Irving kepada siapa pun. Novel sufistik ini menawarkan sejarah kenabian Sulaiman dan sastra yang dijahit dalam latar nuansa modern. Pendeknya ada tiga kata untuk menggambarkan novel ini, yakni fantasi, mistisisme, dan petualangan yang menegangkan. Pesan-pesan universal juga bisa menggugah kehidupan pembaca. Lepas dari semua itu, kabarnya novel ini berasal dari pengalaman pribadi Karchmar sebagai seorang darwis yang nyantri dalam tarekat sufi Nimatullahi.

Sang Raja Jin mengingatkan pada kisah The Lord of The Rings karya J.R. R. Toelkien tentang cincin sakti yang diperebutkan. Cincin yang memiliki kekuatan dan dapat menguasai dunia dan umat manusia. Demikian pula pada cincin Nabi Sulaiman. Cincin putra Nabi Daud ini diyakini bisa menguasai dunia jin dan menggenggam dunia. Hanya kematianlah yang tak bisa dijamah cincin tersebut.

Dua novel lainnya seperti Alchemist karya Paulo Coelho atau Celestine Prophecy juga mengingatkan saat menyimak Sang Raja Jin. Alchemist yang berlatar kisah mistik gurun dan The Celestine Prophecy tentang pencarian manuskrip kearifan mistik di Amerika Selatan. Ada pula yang menyandingkan novel ini dengan The Da Vinci Code, karena sarat teka-teki. Benarkah? (*)


Sumber : Dimuat di Jawa Pos Minggu, 30 Mar 2008

Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

Jumat, 27 Januari 2012

Zaman Peralihan

 Judul buku : Zaman Peralihan

 Penulis : Soe Hok Gie

Editor : Aris Santoso & Stanley

Penerbit : Gagas Media, Jakarta

Terbit : pertama, 2005

Tebal : 314 (hard cover)






Saya mempunyai mimpi yang lain. Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil putusan yang mempunyai arti politis (walau bagaimanapun kecilnya), selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani mwngatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, golongan. Saya masih ingat benar, bagaimana DMI bereaksi ketika saya membela Yap Thiam Hiem, DH – tidak mau membela kebenaran. Dan dari sumber-sumber lain mereka bilang: “Buat apa membela diri. Diakan kristen. Apa untungnya buat kita ?” ketika kebenaran dihitung dengan neraca militer untung rugi, Kristen atau Islam, asli atau tidak asli, seormas atau bukan, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. (Gie:147)
Soe Hok Gie, bukanlah nama yang asing bagi para aktifis kampus. Kotribusi yang diberikannya sangatlah besar, meski berupa catatan hidupnya, namun semangat yang terlukiskan melalui catatan hidupnya (tulisan-tulisannya) masih sangat relevan untuk dibaca para aktifis kampus di zaman sekarang.
Jika perguruan tinggi di masa silam menjadi alat pembinaan bangsa, maka kita bertanya sekarang: “ Apakah hal yang serupa terjadi dengan Universitas kita di masa kini?” Kecuali beberapa, saya khawatir jawabannya: TIDAK.(173).  Kalimat tersebut memang singkat dan sederhana yang terdapat dihalaman 173, namun perlu kiranya kita melihat bahwa kalimat tersebut hidup dan kaya akan makna
Dalam buku Zaman Peralihan ini terdapat kumpulan tulisan Gie lainnya yang pernah dimuat di berbagai media cetak tanah air. Membaca buku ini akan mengantarkan pada sebuah realitas Indonesia pada masa transisi dari orde lama ke awal orde baru, dan tuentunya banyak terjadi transisi politik, moral, dan kebudayaan. Dibutuhkan kecermatan dan pemahaman sejarah dimana tulisan yang terdapat didalam buku zaman Peralihan” ini ditulis, agar kita benar-benar bisa menangkap maksud dari tulisan-tulisan Gie dalam buku ini. Yang paling menarik dari tulisan-tulisan Gie yakni kapasitas atau statusnya sebagai seorang mahasiswa dalam menangkap berbagai isu dan permasalahan sosial-politik yang ada disekitarnya. Sebagai intelektual yang selalu resah melihat kondisi bangsa, Gie mencoba melemparkan pandangan-pandangannya mengenai dunia kemahasiswaan, kebangsaan, persoalan kemanusiaan dan catatannya sebagai turis pelajar ke Amerika Serikat sebagai tokoh Mahasiswa Indonesia. Memang dalam tulisan-tulisannya terdapat kesan Gie berharap banyak kepada pemerintahan orde baru. Hal tersebut dapat dimaklumi karena pada saat tulisan itu dibuat Soeharto baru saja berkuasa setelah menjatuhkan Soekarno yang dianggap diktator dan korup. Namun hal tersebut tidak membuat Gie menjadi ‘jinak’, karena sebagai pihak yang selalu netral ia tetap melakukan berbagai kritik terhadap orde baru. Dalam salah satu tulisannya Gie bahkan menuturkan kekecewaannya terhadap pemerintahan orde baru yang tidak berbeda jauh dengan orde lama, hanya ganti aktor saja. Lepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, makna besar yang terkandung dalam buku ini adalah sebuah penyadaran akan posisi kaum intelektual muda kita khususnya mahasiswa agar turut berperan aktif dalam permasalahan kemanusiaan dan bangsa dengan tetap memegang hakikat dari mahasiswa yaitu menuntut ilmu serta hakikat sebagai manusia biasa yaitu dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu sendiri.
Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting yang memiliki andil penting dalam peristiwa jatuhnya rezim Soekarno ke tangan Rezim Soeharto atau yang sering dikenal Orde Baru. Sebagai seorang aktifis mahasiswa, Gie tahu akan ketidaksehatan dalam dunia kemahasiswaan, terutama didalam kampusnya sendiri. Karya-karyanya berupa tulisan memiliki banayak pengaruh akan semangat para mahasiswa didalam mengatasi isu-isu yang berkembang, namun tidak semua sahabatnya sejalan dengan pikirannya. Hal tersebut dikarenakan Soe Hok Gie atau yang akrab Gie memiliki prinsip untuk tidak bekerja sama dengan partai politik, karena pada waktu itu banyak golongan atau partai-partai politik yang ingin bekerjasama dengannya. Meskipun tawaran tersebut datang dari teman-temannya dengan iming-iming yang menggiurkan, hal tersebut terjadi karena dari partai politik telah mempengaruhi  temannya.
Tulisan-tulisan dalam buku Zaman Peralihan ini sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar yang sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie dalam zaman peralihan ini rasa kemanusiaanya seperti dirobek-robek. Melalui tulisannya kita bisa melihat bahwa Gie adalah intelektual muda yang mampu menangkap gejala sosial yang terjadi disekitarnya
Gie juga manusia biasa yang memiliki rasa jenuh, lelah, bingung dan stagnan. Dalam beberapa kesempatan, kepada kawan-kawannya Gie mengaku selalu bingung. Baginya masa depan adalah suatu hal yang misterius. “Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil ? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme ? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia ? Sebagai orang yang kecewa dan lalu meneror dunia ? atau sebagai orang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari terbit ? saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini.” (307)
Buku ini masih menyimpan banyak mutiara yang tak mungkin disebutkan satu persatu disini tentunya juga sangat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi para membacanya Selebihnya buku ini layak untuk menjadi bacaan bagi mahasiswa atau mahasiswi guna menambah wawasannya. Karena kehadiran buku ini bisa memberikam arti kepada kita bahwa konteks sejarah meski berbeda namun perbedaan tersebut hanyalah terdapat di tahun dan tokohnya. Hal tersebut menjadikan buku ini menarik untuk dibaca dan masih relevan dengan keadaan sekarang yang ada di zaman ini, seperti halnya ungkapan filsuf George Santayana, bahwa orang yang tidak belajar dari sejarahnya cenderung akan mengulangi kesalahan yang sama. Berharap dengan belajar melalui membaca tulisan yang mempunyai arti sejarah, kita bisa memperbaiki kualitas diri kita atau bahkan bangsa kita yang tak lain bisa kita dapatkan melalui buku “Zaman Peralihan”.



Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.