Jumat, 27 Januari 2012

Soe Hok Gie

 
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
Soe Hok Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran


Nama : Soe Hok Gie
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 17 Desember 1942
Nama orang tua : Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An
Pendidikan : SMP Strada (daerah Gambir), SMA Kanisius Jakarta, S1 Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1962-1969)
Pengalaman Organisasi : anggota Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS), anggota MAPALA UI
Pekerjaan : Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Meninggal : 16 Desember 1969, di Gunung Semeru

Soe Hok Gie merupakan anak keempat dari lima bersaudara yang sejak kecil amat suka membaca, mengarang, dan memelihara binatang. Salah satu kakaknya bernama Soe Hok Djien, yang dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak SMP, Soe menulis buku catatan hariannya, termasuk surat menyurat dengan teman-teman dekatnya. Semakin besar, dia makin berani menghadapi ketidakadilan, bahkan dia berdebat dengan gurunya sendiri ketika SMP. Dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie menulis, “Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”

Soe Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Beberapa tulisannya benar-benar tajam dan menohok pemerintah kala itu, sehingga seringkali ia mendapat ancaman dari berbagai pihak. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang”, yang pernah dimuat di harian Kompas, 16 Juli 1969.


Mengapa Soe Hok Gie?

Ada beberapa hal yang membuat saya mengangkat sosok Soe Hok Gie. Sangat banyak memang alasannya, tetapi saya singkat menjadi 2 hal :

  1. Soe Hok Gie merupakan ikon mahasiswa di zamannya. Maju mundurnya suatu Negara bergantung kepada kondisi mahasiswa nya. Tidak heran perjalanan bangsa Indonesia dihiasi oleh perjuangan mahasiswa dalam ruang lingkup kecilm dan pemuda dalam ruang lingkup luas. Berdirinya Boedi Oetomo 1908, lahirnya Sumpah Pemuda 1928, Peristiwa Rengasdengklok 1945 yang menyebabkan proklamasi Kemerdekaan dipercepat, jatuhnya rezim Orde Lama (Soekarno) pada tahun 1966, jatuhnya Soeharto 1998; hal ini semua terjadi karena mahasiswa bergerak melawan ketidakadilan. Kesimpulannya, kemajuan suatu Negara berbanding lurus dengan tingkat kualitas mahasiswa di Negara tersebut. Mahasiswa merupakan komponen penting dalam suatu negara.
  2. Soe Hok Gie merupakan sosok mahasiswa yang idealis dan humanis. Idealisme Soe Hok Gie dibuktikan dari komitmennya untuk selalu melawan ketidakadilan rezim pemerintahan yang mengeluarkan kebijakan tidak pro rakyat. Karakter humanis dipraktekkan oleh Soe Hok Gie dengan tidak memandang seseorang dari ‘label’ (agama, suku, golongan, ras), tetapi memandang bahwa tiap individu adalah manusia yang mempunyai hak hidup yang sama. Sejarah mencatat Buku Harian Soe Hok Gie sangat laku di pasaran, bahkan para sineas muda sekelas Mira Lesmana dan Riri Riza membuat film berdasarkan kisah hidup Soe Hok Gie, dengan judul “GIE”.
 
Karakteristik kehidupan Soe Hok Gie
  1. Masa Pemerintahan Soekarno
    Soe Hok Gie merupakan sosok mahasiswa ideal. Soe Hok Gie berani melakukan kritik keras terhadap pemerintah Orde Lama dan Orde Baru. Pada masa Orde Lama, Soekarno menjadi objek kritikan pedas Soe Hok Gie. Perjuangan Soe Hok Gie ini merupakan suatu tindakan yang berlawanan dengan keadaan ketika itu. Soekarno merupakan Pahlawan Revolusi. Beliau dipuja-puja sebagai Sang Proklamator. Tetapi Soe Hok Gie memandang dari sisi berbeda. Soe Hok Gie tidak membenci Soekarno, tetapi dia membenci ide-ide Soekarno. Di zaman Soe Hok Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Soekarno mulai melakukan kesalahan demi kesalahan dalam pemerintahannya. Kesalhan fatal adalah keluarnya ideologi NASKOM. Soe Hok Gie menentang keras ide ini, terutama yang berkaitan dengan PKI. Sepanjang 1966-1969 Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia adalah pribadi yang istimewa. Hal itu tampak melalui cakrawala pemikirannya yang visioner, militansinya yang nyaris tanpa batas, serta komitmennya yang kukuh pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal. Tahun 1966 ketika mahasiswa turun ke jalan melakonkan TRITURA, Soe Hok Gie termasuk di barisan paling depan. Soe Hok Gie merupakan salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966.
  2. Masa Pemerintahan Soeharto
    Soe Hok Gie membenci PKI, tetapi dia menentang keras usaha pemerintahan Soeharto dalam membasmi PKI melalui pembantaian massal tahun 1965. Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh yang sangat menyoroti tragedi G30/S/PKI, tragedy yang sangat memilukan dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia. Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang sungguh biadab dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan. Tulis Soe Hok Gie di dalam buku hariannya (Catatan Seorang Demonstran).

    “…Kelompok yang berjaga-jaga mulai keluar dengan berpakaian serba hitam dan bersenjatakan pedang, pisau, pentungan dan bahkan senjata api. Rumah-rumah penduduk yang diduga sebagai anggota PKI dibakar sebagai bagian pemanasan (warming up) bagi dilancarkannya tindakan-tindakan yang lebih kejam. Kemudian pembantaian pun terjadi dimana-mana…”

    Soe Hok Gie --saat itu-- menganggap pemerintah Soeharto yang baru dibentuk merupakan antitesis dari pemerintah Soekarno yang korup dan tidak berpijak pada realitas. Pemerintah Soekarno dan pemerintah Soeharto memiliki cita-cita yang sama besarnya dalam menyejahterakan masyarakat. Namun caranya berbeda. Dan di sinilah subjektivitas Hok Gie muncul. “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya,” katanya menyinggung proyek Monumen Nasional yang dibangun di jaman Presiden Soekarno.

    Sikap Soe Hok Gie sebagai seorang idealis sangat mengakar dalam dirinya. Ketika lulus dari Fakultas Sastra UI, Soe Hok Gie memilih menjadi dosen di almamaternya daripada mengikuti jejak teman-temannya sesame aktivis ’66 yang beramai-ramai menjadi anggota DPR-GR (ketika itu DPR bernama DPR-GR). Bahkan, Soe Hok Gie mengirimkan kado “Lebaran dan Natal” untuk teman-temannya di DPR-GR yang berisi pemulas bibir, cermin, jarum, dan benang, disertai pesan : Bekerjalah dengan baik, Hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda tidurlah nyenyak.

Nilai-nilai Kehidupan Soe Hok Gie
  1. Idealisme
    Soe Hok Gie adalah sosok idealisme murni. Hal ini tercermin dalam tindakannya yang mengkritik pemerintah, melalui aksi turun ke jalan maupun melalui tulisan di berbagai surat kabar, tanpa takut oleh ancaman sekalipun. Bahkan, ketika teman-temannya sesama aktivis ’66 menjadi anggota DPR-GR, Soe Hok Gie tidak tergoda untuk masuk ke dalam sistem yang korup. Soe Hok Gie percaya bahwa cara yang paling baik untuk mengawasi jalannya pemerintahan adalah dengan tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan itu sendiri.
    Saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidakpopuleran. Ada sesuatu yang lebih besar: KEBENARAN.” (Catatan Seorang Demonstran)
  2. Moralis Absolut dan Humanisme Universal
    Soe Hok Gie adalah seorang pemuda idealis, seorang moralis yang memegang teguh etika absolut. Bebeda dengan etika tanggung jawab, moralis yang penganut etika tanggung jawab tak akan segan membunuh bila dia punya kesempatan lebih dulu-ketika dia mengetahui bahwa dia akan dibunuh orang tersebut. Berbeda dengan seorang moralis yang menganut etika absolut, walaupun dia mengetahui bahwa dia akan dibunuh, dia tak akan membunuh orang itu meski dia punya kesempatan. Itulah Soe Hok Gie.

    Dalam menelaah permasalahan politik atau permasalahan sosial, Soe Hok Gie selalu memandangnya dari sisi kemanusiaan. Apakah itu orang Cina atau orang Rusia, revolusioner atau kapitalis, Soe Hok Gie melihat orang itu sebagai manusia. Secara nyata hal ini dapat dilihat pada sikap Soe Hok Gie terhadap pembantaian missal tahun 1965.
Seorang inspirator

Tidak terbantahkan lagi, Catatan Seorang Demonstran menjadi sumber inspirasi bagi para mahasiswa pada dekade 1980an. Pada saat sekarang ini, kisah hidup Soe Hok Gie yang tertuang dalam catatan hariannya serta berbagai buku percikan pemikirannya merupakan landasan saya dalam bertindak di lingkungan kampus. Ditambah lagi kelarnya film GIE semakin menumbuhkan rasa kekaguman saya terhadap sosok Soe Hok Gie.

Saya berusaha menerapkan nilai-nilai kehidupan Soe Hok Gie ke dalam kehidupan saya sendiri. Saya menyatakan TIDAK pada politik kampus. Politik kampus yang tidak ubahnya aksi saling sikut demi kepentingan politik praktis semata. Seperti yang dikatakan Soe Hok Gie, politik kampus adalah politik taik kucing. Dimana sebenarnya kampus dijadikan ajang pertarungan antar kelompok yang merupakan perpanjangan tangan dari partai politik.

Idealisme. Saya tidak mau menjadi mahasiswa yang terjebak pada ‘menara gading intelektualitas’. Saya giat dalam mengikuti organisasi kampus, khususnya Pers Mahasiswa. Sekali lagi, tanpa mau ikut dalam pusaran politik kampus.


Penutup

Perlu dicatat, Soe Hok Gie merupakan keturunan Tionghoa, tetapi dia benar-benar mencintai Indonesia. Nasionalisme yang dia punya tidak diragukan lagi. Kecintaan pada tanah air dibangun dengan fondasi idealisme, humanisme universal, dan moralis absolut.

Kisah hidup Soe Hok Gie dapat dijadikan acuan dalam merefleksikan kehidupan mahasiswa sekarang ini. Sekali lagi, bukan hanya AKU PASTI BISA!, tetapi KITA PASTI BISA! Dalam membangun Indonesia kea rah yang lebih baik lagi.

“Di Indonesia hanya ada 2 pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas-batas sejauh-jauhnya.”
(Soe Hok Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran)


Referensi :
Soe Hok Gie Catatan Seorang Demonstran, 2005, LP3ES: Jakarta
Soe Hok Gie …Sekali Lagi, 2009, Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta
Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.

0 komentar:

Posting Komentar